15 Apr 2012

Pergolakan Daerah Terpencil Sebagai Akibat Buruknya Integrasi Wilayah di Indonesia


Setelah 66 tahun Indonesia merdeka, apa yang telah ditampakkan Negara ini? Kemajuan sosial? Kesejahteraan masyarakat? Pemerataan ekonomi? Belum! Indonesia saat ini masih merangkak susah payah untuk mencapai hal itu. Sayangnya, bagi sebagian daerah, merangkaknya Indonesia dianggap terlalu lama. Mereka merasa belum meratanya kasih sayang pemerintah ke seluruh daerah dan rakyatnya. Sebagian maju terlalu pesat, sedangkan yang lain tertinggal sangat jauh. Hanya daerah yang dekat dengan pemerintah pusatlah yang merasakan nikmatnya hasil kekayaan alam Indonesia, sedangkan yang jauh, hanya gigit jari. Hal ini yang membuat beberapa daerah berontak, ingin memerdekaan daerah mereka dan melepaskan diri dari Indonesia.

Misalnya saja kasus separatisme Aceh. Aceh ingin memerdekakan diri dikarenakan Pemerintah Indonesia saat itu (Orde Baru) menganaktirikan mereka. Pemerintah hanya mengurus Pulau Jawa dan menganaktirikan pulau yang lain. Ditambah cara pemerintahan Orde Baru yang keras, membuat GAM semakin berapi-api. Bukan hanya Aceh saja yang ingin merdeka, Maluku dan Papua juga ingin melepaskan diri dari Indonesia. Mereka juga menganggap Pemerintah hanya menguras kekayaan alam daerah mereka tanpa bisa memberikan umpan balik yang setimbang.

Lalu pertanyaan lain muncul, masih adakah Integrasi nasional dalam tubuh Indonesia saat ini? Masih adakah rasa satu kesatuan dalam tubuh bangsa Indonesia ini? Jawabannya, sangat kecil. Lihat saja bagaiman satu per satu wilayah Indonesia hilang. Entah dengan cara memerdekakan diri sendiri, maupun diambil secara politik oleh Negara tetangga. Seperti yang terjadi pada perbatasan Indonesia (Kalimantan Barat) dengan Malaysia (Serawak) yang bergeser. Diam-diam Negara tetangga tersebut mencaplok wilayah Indonesia. Namun ketika diklarifikasi, kesalahan berada pada Pemerintahan Indonesia.

Pemerintah tak bisa mengurus daerah perbatasan tersebut dengan baik. Justru Malaysialah yang mengurus dan memperbaiki kehidupan perekonomian masyarakat daerah tersebut. Mereka lebih sering berinteraksi dengan Malaysia daripada dengan Negara mereka sendiri. Kehidupan mereka didapat dari berdagang di Malaysia. Oleh karena itulah mereka lebih memilih memasukkan daerah mereka sebagai bagian dari wilayah Malaysia daripada Indonesia yang tak memberikan apapun untuk mereka.

Hal sama juga terjadi pada Pulau Sipadan dan Ligitan yang kini menjadi wilayah Malaysia. Alasan yang sama juga melatarbelakangi hilangnya dua pulau tersebut dari wilayah Indonesia. Pemerintah Malaysia lebih perhatian daripada pemerintah Indonesia. Hal ini semakin membuktikan ketidakberhasilan pemerintah dalam mengurusi wilayahnya.

Bukankah itu berarti sudah tidak adanya keserasian antara rakyat dengan pemerintah? Membuktikan juga bahwa Integrasi Politik terutama Integrasi Wilayah di Indonesia sangat kecil. Bagaimana persatuan dapat terwujud jika ada rasa saling iri antara satu daerah dengan daerah lain. Jika dulu Indonesia dapat bersatu karena memperjuangkan hal yang sama, yaitu kemerdekaan, kini sudah berbeda. Kesenjangan ekonomi antara daerah satu dengan yang lain membuat tujuan masing-masing daerah berbeda. Yang satu sudah nikmat dengan fasilitas modern, sedangkan yang lain masih memperjuangkan dan masih belum ada kejelasan tentang itu. Inilah yang harus direnungkan oleh Pemerintah dan juga kita sebagai rakyat yang merasa sudah ‘mewah’ kehidupannya.

Solusinya kita kembalikan pada diri masing-masing. Jika kesenjangan daerah terjadi pada daerah kita sendiri, apa yang akan kita lakukan? Pasti berusaha mati-matian untuk mendapat pengakuan dari Pemerintah bahwa kita disini ‘membutuhkan’. Bahwa kita di sini ingin kehidupan yang sama majunya dengan yang di pusat pemerintahan. Ketika pemerintah telah turun tangan dan mau membantu kita, ingatlah! Bahwa kepentingan bersama lebih tinggi dari kepentingan pribadi maupun kelompok. Janganlah kita memakan harta orang banyak hanya untuk isi perut kita sendiri. Jika pemerintah telah turun tangan, tetapi oknum-oknum penyalur bantuan tersebut memakan sedikit demi sedikit dana atau bantuan tersebut, sama saja nol besar. Tak ada yang bisa menyelesaikan masalah selain kita sendiri.

Janganlah terus-terusan menyalahkan ketidakbisaan pemerintah dalam memelihara wilayahnya, tapi semua kita kembalikan pada diri masing-masing. Pemerintah bukanlah dewa atau Tuhan yang bisa menghidupi semua rakyatnya secara merata. Mereka hanyalah manusia biasa sama seperti rakyat yang lainnya.

Kita juga harus menumbuhkan rasa cinta tanah air semua warga Negara. Cinta tanah air bukan hanya gombalan atau Cuma di bibir saja. Cinta tanah air bukan hanya dengan mencintai dan membeli produk tanah air. Cinta tanah air yang sesugguhnya adalah ketika kita bisa mengangkat nama baik Indonesia. Ketika kita bisa mengentaskan beberapa masalah yang pemerintah belum bisa mewujudkannya. Jika Indonesia mampu melahirkan penerus bangsa yang berbakat dibidangnya, mengapa penerus bangsa itu justru bekerja diluar negri dan tak mengangkat Negara yang akan tenggelam ini? Harusnya mereka-mereka itulah yang menjadi pahlawan selanjutnya dalam mengentaskan kesenjangan antar daerah. Menjadi relawan di Negara sendiri demi kemajuan bangsa. Seperti kata pepatah, ‘berakit-rakit kita ke hulu, berenang-renang kita ketepian’. Bersakit sakit dahulu memperjuangkan kesamaan hidup antara daerah satu dengan yang lainnya, baru setelah itu kita mengambil kenikmatan dengan majunya Negara ini dan nama kita terpampang sebagai salah satu promotor kemajuan bangsa.

0 komentar: